Jumat, 06 Desember 2013

PENGURUS HILAL KORDA JAKARTA



SUSUNAN PENGURUS HILAL KORDA JAKARTA



Ketua Umum                  : Agus Saat Fikri

Wakil Ketua Umum        : Tedi Faisar

Sekretaris                       : Abul Abbas Beni

Bendahara                      : Yuliani, S.Pd.I

A.     Departemen SDM  dan Kaderisasi

·   Chandra Wijaya

·   Ulul Azmi



B.     Departemen Komunikasi Dan Informasi

·   Mukhabirillah

·   Fatimatus Zahroh



C.     Departemen Kemuslimahan

·   Abir Al-Biary
.   Mulyana

·   Wika Arisma



D.     Departeman Kajian Keislaman Dan Keilmuwan

·    Arsyid Sidiq

·    Zahroh Ittaqillah, S.Pd.I
.    Luther Phindo

Kamis, 05 Desember 2013

ARTIKEL



Kesesatan Syi'ah
Oleh : Arsyid Siddiq Ibnu Tambirin


Syiah membius umat KEPADA IKHWAN-IKHWAN DAN AKHWAT.............DAN SELURUH KAUM MUSLIMIN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH SEPATUTNYA KITA PELAJARI LEBIH LANJUT DAN TELITI TENTANG KEBEJATAN DAN KESESATAN-KESESATANNYA YANG TELAH DI PERBUAT OLEH ORANG ROFIDZOH......SYIAH LAKNAT MEREKA DIDALAM HATI KALIAN SEMUA, DEMI MENJAGA KEUTUHAN BANGSA KITA, SILAHKAN DI SHARE SAMPAIKAN PADA SANAK KELUARGA DAN TETANGGA-TETANGGA KITA YANG BELUM TAU TENTANG APA ITU SYIAH................Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ? Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ? Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah. Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul. Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan. Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). 1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima) a) Syahadatain b) As-Sholah c) As-Shoum d) Az-Zakah e) Al-Haj Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda: a) As-Sholah b) As-Shoum c) Az-Zakah d) Al-Haj e) Al wilayah 2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) : a) Iman kepada Allah b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya c) Iman kepada Kitab-kitab Nya d) Iman kepada Rasul Nya e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah. Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)* a) At-Tauhid b) An Nubuwwah c) Al Imamah d) Al Adlu e) Al Ma’ad 3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka. 4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan. Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. 5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah : a) Abu Bakar b) Umar c) Utsman d) Ali Radhiallahu anhu Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka). 6. Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi. 7. Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat. Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah. 8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin. Syiah : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan. 9. Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : a) Bukhari b) Muslim c) Abu Daud d) Turmudzi e) Ibnu Majah f) An Nasa’i (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia). Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat : a) Al Kaafi b) Al Istibshor c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih d) Att Tahdziib (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 10. Ahlussunnah : Al-Qur’an tetap orisinil Syiah : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah). 11. Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah. 12. Ahlussunnah : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya. Syiah : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait. Keterangan : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian. 13. Ahlussunnah : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Syiah : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. 14. Ahlussunnah : Khamer/ arak tidak suci. Syiah : Khamer/ arak suci. 15. Ahlussunnah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci. Syiah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan. 16. Ahlussunnah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Syiah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat. (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri). 17. Ahlussunnah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Syiah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya. (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya). 18. Ahlussunnah : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i. Syiah : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun. 19. Ahlussunnah : Shalat Dhuha disunnahkan. Syiah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan. (padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha). Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini. Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap). Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya). Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama). Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu). Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah. Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi. Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita. Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin. Keterangan lebih lanjut tentang kesesatan syiah klik : http:/ban-syiah.blogspot.com/.......................MUDAH-MUDAHAN BERMANFAAT http://ban-syiah.blogspot.com/ Khoirus Sholeh syiah membius umat KEPADA IKHWAN-IKHWAN DAN AKHWAT.............DAN SELURUH KAUMMUSLIMIN AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH SEPATUTNYA KITA PELAJARI LEBIH LANJUT DAN TELITI TENTANG KEBEJATAN DAN KESESATAN-KESESATANNYA YANG TELAH DI PERBUAT OLEH ORANG ROFIDZOH......SYIAH LAKNAT MEREKA DIDAKAM HATI KALIAN SEMU, DEMI MENJAGA KEUTUHAN BANGSA KITA, SILAHKAN DI SHARE SAMPAIKAN PADA SANAK KELUARGA DAN TETANGGA-TETANGGA KITA YANG BELUM TAU TENTANG APA ITU SYIAH................Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ? Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ? Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah. Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul. Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan. Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). 1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima) a) Syahadatain b) As-Sholah c) As-Shoum d) Az-Zakah e) Al-Haj Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda: a) As-Sholah b) As-Shoum c) Az-Zakah d) Al-Haj e) Al wilayah 2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) : a) Iman kepada Allah b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya c) Iman kepada Kitab-kitab Nya d) Iman kepada Rasul Nya e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah. Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)* a) At-Tauhid b) An Nubuwwah c) Al Imamah d) Al Adlu e) Al Ma’ad 3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka. 4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan. Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. 5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah : a) Abu Bakar b) Umar c) Utsman d) Ali Radhiallahu anhu Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka). 6. Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi. 7. Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat. Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah. 8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin. Syiah : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan. 9. Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : a) Bukhari b) Muslim c) Abu Daud d) Turmudzi e) Ibnu Majah f) An Nasa’i (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia). Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat : a) Al Kaafi b) Al Istibshor c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih d) Att Tahdziib (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 10. Ahlussunnah : Al-Qur’an tetap orisinil Syiah : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah). 11. Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah. 12. Ahlussunnah : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya. Syiah : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait. Keterangan : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian. 13. Ahlussunnah : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Syiah : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. 14. Ahlussunnah : Khamer/ arak tidak suci. Syiah : Khamer/ arak suci. 15. Ahlussunnah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci. Syiah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan. 16. Ahlussunnah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Syiah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat. (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri). 17. Ahlussunnah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Syiah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya. (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya). 18. Ahlussunnah : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i. Syiah : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun. 19. Ahlussunnah : Shalat Dhuha disunnahkan. Syiah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan. (padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha). Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini. Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap). Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya). Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama). Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu). Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah. Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi. Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita. Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.
Wallahu a'lam bishowab,,,,

CERPEN



PENANTIANKU  BERAKHIR DI BUMI SILAMPARI
Oleh : Siti Fatimah*

 Langit bersinar cerah, matahari mengintip malu dari balik awan, burug pipit menari-nari riang diangkasa dan sesekali berkicau merdu seakan sedang menghibur bumi silampari yang baru saja terbangun dari gelapnya malam. Pedagang sayuran yang tertata rapi di depan stasion menambah keramaian kota ini, para supir angkutan, tukang ojek maupun tukang bejak kesana kemari mencari penumpang yang baru saja turun dari kereta api, ku hirup udara pagi ini. Keindahan alam ini dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup, begitu juga dengan diriku, saat aku menatap kembali kota kelahiranku, kota dimana aku menghabiskan masa kecilku, aku sangat bahagia saat pertama kali turun dari kereta api dan kembali menapakkan kaki diatas kota lubuklinggau yang sering disebut bumi silampari setelah empat tahun lamanya aku berada di ibu kota sumatera-selatan demi menuntut ilmu. Meski jarak antara lubuklinggau dan Palembang tidak terlalu jauh yang hanya membutuhkan 12 jam dengan menggunakan kereta api, tapi selama ini aku belum pernah pulang, karena sejak awal aku berangkat kekota yang terkenal dengan empek-empek dan masuk ke Universitas PGRI, aku telah memutuskan untuk  tidak akan kembali sebelum aku mendapatkan gelar serjana dan memiliki pekerjaan, dan hari ini terpaksa aku pulang kelinggau karena permintaan ibu.
“Pulanglah nak…., ada lamaran yang datang untukmu. Jadi perempuan jangan terlalu lama menyendiri dan jangan banyak pilah-pilih, yang penting laki-laki itu baik dan mencintaimu, itu saja sudah lebih dari cukup”. Masih terngiang kata-kata ibu ditelinggaku saat menelponku seminggu yang lalu memintaku untuk pulang agar bisa melihat lelaki yang meminangku. Ah ibu, bukannya aku terlalu memilih-milih, hanya saja saat ini aku sedang menunggu, menunggu seseorang yang telah menghuni hatiku sejak kecil. Meski ia tak pernah tahu akan isi hatiku, namun aku akan terus menunggu sampai ia sudah ada yang memiliki.
Setelah mendapat kabar dari ibu perihal lamaran yang datang datang, kugempur dengan sebaik-baik ibadah. Tiada malam tanpa qiyamul lail, tiada pagi terlewat Duha, tilawah lebih deras, do’a semakin thuma’ninah, memperbanyak sedekah, dan puasa sunnah yang akan semakin menjarakkan diri dari kehendak-kehendak keduniaan. Setiap ibadah diniatkan untuk menggapai kemantapan hati. Shalat istikharah pun dilakukan, memohon petunjuk dari Allah antara 2 pilihan yang aku hadapi. Haruskah aku menerima pinangan tersebut atau menolaknya dan menunggu seseorang yang telah lama ku tunggu. Aku lebih mengharapkan bahwa ia lah laki-laki yang akan dipilih Allah untuk ku. Tiada henti kusebut namanya dalam setiap do’aku, berharap agar Allah memilih dia untuk menjadi teman jihadku.
Aku menggunakan jasa tukang becak untuk mengantarku sampai rumah, dikota ini tidak ada yang namanya taksi yang ada hanyalah angkutan kota karena kota lubuklinggau hanyalah kota kecil, kota yang belum banyak dikenal oleh orang-orang namun bagiku kota inilah kota yang paling indah. Kota ini tak banyak berubah masih seperti empat tahun yang lalu saat aku pergi meninggalkan kota ini, kota kecil ini banyak menyimpan kenangan indah masa kecilku bersama Imam, Teman sepermainanku masa kecil dan menjadi penghuni pertama hatiku saat duduk dikelas 2 SMP. Aku dan Imam selalu bersama, main bersama, pergi kesekolah bersama, Imam adalah sosok lelaki yang baik, homuris, penyayang, rendah hati dan selalu menjagaku dari gangguan anak-anak yang nakal. Itulah yang membuat aku jatuh hati padanya, jika aku berada didekatnya aku merasa tenang dan tidak ada yang berani mengganguku karena imam selalu menjagaku.
Aku tak pernah tahu apakah perasaanku pada iman hanya sebatas rasa kagum atau hanya sekedar cinta monyet. Namun satu yang pasti, dari saat aku menyukai Imam sampai detik ini perasaan itu tak pernah berubah, perasaan itu tetap sama. Aku berharap imam lah laki-laki yang akan dipilih oleh Allah untuk mendampingiku, yang akan menjadi partner jihadku, dan menjadi ayah bagi anak-anakku. Aku selalu menunggunya meski aku tak tahu apakah penantian panjangku akan terwujud.
Setelah lulus dari SMA aku dan Imam berpisah untuk melanjutkan keperguruan tinggi. Imam melanjudkan studinya kebandung sedangkan aku melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi yang ada di Palembang.  Meski telah berpisah jauh kami tetap menjaga komunikasi baik melalui handphone ataupun jejaring sosial, seperti Facebook. Saling bercerita tentang pelajaran kampus, pekerjaan, kehidupan sehari-hari dan bertukar pikiran.
***
            Ba’da asyar aku sempatkan untuk keliling di komplek perumahanku, berjalan menyusuri gang-gang kecil, menepaki jalan setapak yang lebarnya kira-kira 1,5 meter. Lapangan bola itu masih ada, tempat aku bermain bersama Imam, berlari kesana-kemari mengejar bola, meski aku seorang wanita tapi aku sangat jago bermain bola kaki. Setelah kelelahan bermain aku dan Imam akan duduk bersama dibawah pohon kelapa yang ada diujung sana. Ah… teringat kembali sosok teman kecilku yang berhasil menghuni hatiku, namun kini penantianku itu berakhir sudah karena orang tuaku terlanjur menyukai laki-laki yang melamarku dan malam nanti ia bersama keluarganya akan berkunjung kerumah kami untuk meminta jawabanku atas lamaran itu.
“Ia laki-laki yang sholeh, baik, berpendidikan dan dari keluarga yang baik-baik, apalagi yang kurang darinya Rara?, terimalah nak lamaran itu, kau sudah dewasa, tidak baik kalau kau terlalu lama sendiri takutnya nanti akan ada fitnah” kata ayah saat tahu bahwa aku tidak suka dengan lamaran itu namun tidak ada alasan bagiku untuk menolak lamaran itu, tidak mungkin kalau aku mengatakan pada ayah bahwa aku menyukai laki-laki lain. Ayah sudah semakin tua, sebagai putrinya tunggalnya aku tak ingin melukai hatinya.
“Rara…?”, Suara seseorang yang membuyarkan semua lamunanku, menghapus kenangan masa kecilku yang sekilas hadir dalam ingatanku, suara itu tak asing lagi bagiku. Aku terpaku melihat laki-laki yang berdiri didepanku saat ini. Penampilannya sangat berwibawa, rambutnya tersisir rapi dan memakai baju kemejah putih.
“Imam?” aku terkejut melihat sosoknya kembali hadir dihadapanku, sejuta rasa berkecamuk dalam hatiku. Ada rasa rindu yang selama ini berkecamuk dihati, ada rasa kecewa karena sampai saat ini Imam hanya sebatas sahabat, ada rasa penyesalan karena mengapa aku harus jatuh hati padanya.
Imam melihatku seperti orang yang kebinggungan, ia melihatku dari ujung kaki samapi ujung jilbab biru yang ku kenakan. Kemudian ia tersenyum padaku. Senyuman itu sama manis dan tulusnya seperti dulu, tidak ada yang berubah darinya. Ia tetap sahabat kecilku dulu, sahabat yang membuat aku merasa tenang berada disampingnya.
“Apa kabar mu Ra?” Suaranya terdengar begitu tertekan, meskipun aku tahu sebenarnya Imam ingin mencairkan suasana.
“Alhamdulillah sehat, kau sendiri?, kapan kau kembali ke sini Mam?”, tanyaku sekedar basa-basi
“Aku juga sehat, sudah dua minggu yang lalu, kau kapan pulang?, pulang kesini kok tidak bilang padaku?”
“Tadi pagi aku sampai, aku tidak tahu kalau kau ada di linggau”, aku sedikit tersenyum, aku berusaha untuk menutupi perasaanku padanya karena tidak ada harapan lagi bagiku untuk mengharapkannya lagi.
“Kau saja yang terlalu sibuk, hingga lupa menghubungiku. O ya ada urusan apa kau pulang ke linggau?” tanyanya ragu seakan menyimpan sesuatu dari ku
“Hanya kangen sama ayah dan ibu, sudah lama aku tidak pulang ke linggau. Kau sendiri?”
“Huhh…” Imam menghembuskan nafas lalu memejamkan matanya.
“Kau ingat Ra…,bukankah dulu pernah ku katakana padamu bahwa aku akan pulang saat aku telah menemukan bidadariku. Bidadari yang akan menemani jihadku, mendampingiku dan menjadi ibu dari anak-anakku dan sekarang aku telah menemukannya, ra.”
Degg! Satu pukulan keras kurasakan tepat mengenai ulu hatiku. Aku tidak salah dengarkan?, seorang bidadari telah ia temukan? Ya Allah… ini kah akhir dari penantian cintaku?, inikah kehendak-Mu?,  Aku rasakan sekujur tubuhku lemas, aku berusaha untuk bahagia mendengar kebahagian teman kecilku. Inilah akhir dari penantianku, Imam telah menemukan sosok wanita yang akan mendampinginya dan aku?, ada seorang laki-laki yang saat ini menanti jawabanku atas lamarannya.
“Siapa wanita itu, Mam?”, tanyaku penuh dengan keraguan
“Aku yakin kau mengenalnya Ra…,”  jawab Imam
Apa?, Aku mengenal wanita yang membuat Imam jatuh hati?, siapa wanita itu?, mengapa bukan aku wanita itu?. ada rasa cemburu hadir dalam hati ini. Kupejamkan mataku, kurasa sesak didada.
 “Aku telah menemukan wanita yang akan menemaniku Ra, tapi aku takut ia tidak akan menerimaku menjadi suaminya” suaranya cemas dan pelan tapi terdengar jelas, demi menyenangkan hatinya kukatakan padanya bahwa wanita itu akan menerimanya. Kurasakan semua hatiku remuk, hancur berkeping-keping. Ah inikah Hasil dari istikharah yang aku lakukan, inikah jawaban dari Allah agar aku menerima lamaran yang datang padaku, karena kini Imam telah memilih wanita lain, bukankan penantianku berakhir jika imam telah ada yang memilikinya.
***
            “Ya Allah… aku mengharapkan bahwa dia lah yang akan Kau pilih untuk, tapi jika ini keputusan-Mu maka aku ridha atas keputusan-Mu, karena setiap keputusan yang Kau beri maka itu lah yang terbaik untuk hamba-Mu…”, kuakhiri shalat isya dengan do’a, ini kah keputusan yang akan ku ambil?, Inikah keputusan yang Allah berikan kepadaku?
            Terdengar begitu banyak suara diruang tamu, mungkin laki-laki beserta keluarga yang melamarku sudah datang. Hatiku semakin cemas, takut, bimbang semua perasaan bercampur jadi satu, pertanyaan-pertanyaan hadir dari hati ini, apakah ini pilihanku?, apakah aku mampu menerimanya dengan setulus hati?, dapatkah aku melupakan ia yang telah lama mengisih hatiku?,
            “Rara”, suara ibu yang memanggilku
            “iya bu”
            “Keluarlah nak, semua orang menunggumu, menunggu jawabanmu”
            “Ibu…” suaraku pelan, ibu tersenyum padaku
            “ Jangan ragu nak, meski ayah dan ibu berharap kau menerimanya, tapi ayah dan ibu tidak bisa memasakmu, semua kembali kepada keputusanmu, apapun jawabanmu nanti ayah dan ibu berusaha untuk menerimanya” Ah, ibu sungguh bijaksana. Beliau tak pernah memaksaku, semua kembali pada keputusanku.
            Aku berjalan keruang tamu dengan didampingi ibu, aku selalu menundukan kepala, takut untuk melihat orang-orang yang duduk diruangan ini. Aku tidak mampu memandang mereka satu persatu, apalagi lelaki yang memilihku untuk menemani hidupnya. Aku duduk disamping ayah, ayah memegang tanganku.
            “Apa kau yakin nak memilih putriku untuk menjadi isterimu?”, Tanya Ayah meminta keyakinan.
            “Aku akan berbicara dari hatiku yang paling dalam. Sebelum aku melamar Rara untuk menjadi isteriku, aku telah melakukan shalat istikhara terlebih dahulu. Tiga kali aku melakukan isthikrah tiga kali pula Rara hadir dalam mimpiku, tersenyum padaku dan memanggil namaku. Aku yakin bahwa Rara adalah wanita yang dipilih oleh Allah untukku, jadi dengan mengucap Bismillah aku siap hidup bersama Rara. Sekarang tanyalah pada Rara, apakah ia siap memiliki seorang suami seperti aku?”
            Jantungku berdetak keras, suara lelaki itu?, aku kenal dengan suara itu, bukankah itu suara..?,
            “Baiklah, biar Rara sendiri yang menjawabnya, berilah jawabanmu nak. Semua keputusan ada ditangganmu” ujar ayah.
            Ku angkat kepalaku, memandang orang-orang yang ada diruangan ini, kulihat  lelaki yang duduk didepanku. Aku terkejut…
            Subhanallah..!
            Benar dugaanku, lelaki itu adalah Imam, lelaki yang melamarku adalah Imam. Inikah jawaban Allah untukku?, inikah hasil dari penantianku selama ini?, Allah mengabulkan semua do’aku, akhirnya penantian panjangku berakhir, berakhir dibumi silampari. Aku diam sesaat, tidak ada kata lain yang mampu kucapkan selain kata syukur.
            “Jika Imam sudah mantap dengan keputusannya, maka bismillah aku siap menjadi isterimu” aku menjawab dengan pasti
            “Alhamdulillah..” semua orang yang ada mengucapkan rasa syukur.
           
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana” (AlAnfaal:63)
Fabiayyi alaa’i robbikumaa tukadzdziban. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustai? (Ar-rahman)




*Penulis adalah alumni Al-Azhaar angkatan 2009
“AL-FARIEZONA”